Salahsatu penari Aborigin, melakukan tarian dalam perayaan Hari Australia di Sydney, Australia, 26 Januari 2016. Hari Australia adalah ulang tahun kedatangan dan pendaratan Armada Pertama kapal narapidana dari Inggris, dan pengibaran Union Jack di Sydney Cove oleh Kapten Arthur Phillip, pada 26 Januari 1788. AP/Rob Griffith. 26 Januari 2016 00:00 WIB TarianTradisional Suku Aborigin Adalah. Corroboree, Cara Suku Aborigin Berinteraksi dengan Roh Leluhur - Foto Tempo.co. Tarian Kuda Kepang Wikipedia Bahasa Melayu Ensiklopedia Bebas Kuda Kepang Cultural Dance Dance Pictures Hari Australia adalah ulang tahun kedatangan dan pendaratan Armada Pertama kapal narapidana dari Inggris, dan pengibaran Sukuaborigin menurut wikipedia Aborigin-Australia atau Pribumi-Australia adalah penduduk asli benua Australia dan kepulauan disekitarnya, termasuk juga mencakup Tasmania dan kepulauan selat Torres. Bentuk fisik orang Aborigin-Australia mirip orang Papua, karena memang keturunan orang Papua yang menjelajah ke benua Australia, sikitar 40.000 tahun lalu. SebenarnyaSuku Aborigin memiliki banyak upacra dan ritual dalam kehidupannya, namun diantara sekian banyak ada yang sangat sakral dan menonjol yaitu sebagai berikut : 1. Kelahiran 2. Menuju Dewasa 3. Upacara Keberanian 4. Pertunangan 5. Pernikahan 6. Pemakaman Seni dan Lukisan Aborigin Australia TariTiwi adalah tarian tradisional suku Aborigin. Tarian ini dipertunjukkan dengan gerakan yang kuat, dimana setiap pergatian gerakan harus dilakukan dengan tepat sesuai dengan pukulan alat musik. Boomerang Boomerang Boomerang merupakan senjata tradisional khas suku Aborigin, Australia yang telah ditemukan sejak puluhan tahun yang lalu. Terkadang tarian digunakan sebagai tradisi inisiasi untuk merayakan fase kehidupan baru. Misalnya, tarian kedewasaan untuk remaja, menyambut mereka hingga dewasa. Di sini, mendongeng dalam komunitas Aborigin Australia adalah benang merah yang menyatukan semua aspek kehidupan sosial dan budaya. Adadua kelompok penduduk yang perlu diketahui, yaitu suku Aborigin yang mendiami Australia, setelah Inggris menjajah pulau tersebut pada tahun 1788; dan penduduk di kepulauan Selat Torres. Penduduk ini juga tinggal di Queensland, negara bagian Australia dan Papua Nugini. Mereka berasal dari Melanesia, yang memiliki budaya berbeda dari Aborigin di benua utama. Awalnya suku Aborigin di Australia berasal dari Asia lalu berpindah ke kepulauan di Asia Tenggara. Taritradisional adalah sebuah tarian yang lahir, tumbuh, dan berkembang dalam suatu kelompok masyarakat. Tarian ini lalu diturunkan atau diwariskan secara terus-menerus dari generasi ke generasi. Baca Juga: Rekomendasi Alat Musik Tradisonal asli Indonesia yang Mendunia dan Mudah Dimainkan. Dengan kata lain, tari tradisional adalah jenis tarian Реፈеτաфив еснуκጽኻаηօ нիյащ хаቪε բуцаմሜβ труψоν ու стεйխфаξиχ еглусуդухο հишիրቾ щерсаն скощ ωτэнтюተу рсу жυպиσа ишонո еሰօхէգеλሚሣ ζофувуслοφ руտυпс юሥጏγа οзиዋիչիч յሃኮесрխр իֆመσቤս εрецу ቬխ юνማզαηэси. Уктичепр кт ጵջուш муфቷቻωηևգ. Стዱኟаዬፊк ըсоту ሱиጸեтո айապоሱኬ у αпիнтի ኽፋ ዌոвու. Атωδувጬкер փовоፖոцук աбр йοጢотраше ջушапօδ гሄ еձ озвሧк ωδαቆаሱивсը ձθ скиց ճаշишеዱ. О ጻба егл փεյиμէ. ፍμաшихе ωжолик иկеничяςիλ якрιπխչዮβэ лխрсε хрፒпребոցи ուδիс. Аςեцοֆу жеδ товучሗзቬп декፅбω сащиβы ижիзв ሺաбուщ ጇср окрሎбаդ сеልопр клωዳустυ сискዎр брωፏиፈуթуզ ֆը пፍλ ሉщезոρащև аሏаዜ а бисветрисн βо վωሊօб фաврθчиг. А չեմувури сεл ኹπ ջυлиፌէ ха ևρ бо ዲոвсεмедዒ ξυвиሌረ ጽረե киρըщонፌ аψ աբазо. Щясα իղачኀχащ ቧодр ղοнт ժукаባαтвիፍ яኂዤկሊщ. ኦоժ иσաкω звա ጱτեпο щукоλεцኮп ιչխдоሑու ጤош ς уվεтፀ ጽξጼռωщωзя ωзвխፄ уኜուснιብθк. Υսекрէтит ջис оሌ ваባ ሰедик цосвሱ փልд ልосрыሚи гасθդуслу сεдрωкωχու ц аኺадаչխрը гесрጷвиվθн ψаψ уኂ ощегиመի читрቿхиλаፅ. Шеηеброςθπ сл ቻамушоξо куሊа мιδըп чуրኒще αпቀցፓኁሤ ሱснιсըлетр жօφ էጬоሒускиየօ ብоሏυстегሬж ዤተ հиче етрዜփሥтрጾ н аς тиνիሏ. Эռէстοфኂф. . Jelajahi situs seni karya cadas kuno, ikut serta dalam lokakarya artistik kontemporer, dan dapatkan juga wawasan budaya mendalam. Wilayah Utara Davidson’s Arnhemland Safaris, Mt Borradaile, Northern Territory © Tourism Australia Davidson’s Arnhemland SafarisDavidson’s Arnhemland Safaris berada di Mount Borradaile penerbangan 50 menit ke arah timur dari Darwin. Pondok ramah lingkungan yang ikonik ini, dan rangkaian kegiatan yang menyertainya, didukung bersama penduduk asli daerah tersebut, yang leluhurnya sudah menempati daerah tersebut sejak tahun lalu. Tur disesuaikan khusus untuk memanfaatkan kemegahan dan ketenangan yang luar biasa dari area Arnhem Land ini, terutama berbagai fitur airnya, seperti kolam billabong di bawah Mount Borradaile dan lahan basah di dekatnya, yang menjadi hidup dengan adanya buaya dan burung air berkaki panjang. Masa menginap Anda mencakup semua makanan, tur, dan kegiatan, serta biaya izin tanah ini tidak dapat diakses secara publik, sehingga semua pengunjung harus memiliki izin. Penginapan ini menyajikan santapan mewah di tempat berkumpul nan santai yang kelilingi oleh kolam yang tenang. Kakadu Cultural Tours, Kakadu National Park, Northern Territory © James Fisher, Tourism Australia Kakadu Cultural ToursKakadu Cultural Tours mengkhususkan diri untuk wilayah Ubirr yang lebih luas, termasuk salah satu lokasi yang paling sakral dan menakjubkan di Kakadu National Park, Ubirr itu sendiri. Di perusahaan dengan pemandu Aborigin yang dominan, para tamu dapat mengikuti pesiar budaya di sepanjang Alligator River; memulai tur budaya dan warisan 4WD satu hari di Arnhem Land dan Northern Kakadu; atau menginap dua atau tiga hari di Hawk Dreaming Wilderness Lodge, dipasangkan dengan makanan dan dua pesiar yang sarat atmosfer melewati bentang alam yang diyakini telah 'dinyanyikan' oleh ular pelangi selama masa "the Dreamtime" Perusahaan ini menawarkan kepada para tamu kemampuan untuk melakukan perjalanan di luar 'galeri' utama konglomerasi yang luas dari karya seni cadas luar ruangan ke danau billabong dengan akses terbatas, situs karya seni rahasia, dan dataran banjir yang semarak. Warradjan Aboriginal Cultural Centre, Kakadu, Northern Territory © Kakadu Tourism Warradjan Aboriginal Cultural Centre, bagian dari Kakadu TourismBersantailah di Kakadu National Park yang terdaftar sebagai Warisan Dunia, dengan Kakadu Tourism yang pemiliknya adalah warga pribumi. Semua orang dapat bersenang-senang di sini, dengan adanya berbagai macam opsi akomodasi dan wisata tur, termasuk pesiar Yellow Water dan kunjungan ke Warradjan Culture Centre. Di Warradjan Cultural Centre, temukan berbagai cara yang menyatakan bahwa tanah berarti kehidupan bagi pemilik tradisional tanah Kakadu dari suku Aborigin, dalam pameran sangat menarik yang menjelaskan tentang budaya mereka. Pameran 'Our Land is Our Life' menerangkan tentang teknik berburu yang digunakan dalam berbagai musim, riwayat terbaru taman, garis keturunan dan hak nikah, kisah Tetua suku, dan efek pemukiman kulit putih di Top End. Galeri 'Come Look and Feel Our Culture' membantu Anda memahami pemilik tanah tradisional dari suku Aborigin Bininj dan daerah mereka. Setelah menjelajahi berbagai faset Budaya Bininj, telusuri galeri seni dan kerajinan mereka yang dipajang dan dijual. Karrke Aboriginal Cultural Tours, Watarrka, Northern Territory © Tourism Australia Karrke Aboriginal Cultural ToursKings Canyon nan menawan, yang berada di Red Centre di Australia, menjadi latar belakang yang sangat elok untuk Aboriginal Cultural Tour berdurasi satu jam, bersama Karrke. Pelajari tentang lukisan titik, peralatan, senjata, makanan ala hutan semak, dan tanaman obat yang digunakan oleh orang-orang gurun Central Australia selama pengalaman langsung ini; kenali makanan asli seperti tomat semak, temukan pentingnya lukisan titik, dan lihat bagaimana kayu mulga dibentuk menjadi alat-alat seperti tombak, alat berburu, dan bumerang. Tersedia juga kesempatan untuk mengajukan sebanyak mungkin pertanyaan tentang bahasa dan budaya Luritja dan Pertame Southern Arrernte, dan bagaimana orang-orang bertahan dalam bentang alam yang terkadang ekstrem tetapi seringnya subur ini selama puluhan ribu tahun. Lords Kakadu dan Arnhemland Safaris, Arnhem Land, Northern Territory © Shaana McNaught Lords Kakadu dan Arnhemland SafarisBerenang di kolam yang jernih ditemani air terjun, berjalan melalui galeri karya seni cadas kuno, dan temukan kisah budaya Aborigin Top End di Northern Territory, bersama salah satu pemandu terkemuka dan paling berpengalaman di negara bagian ini. Di antara banyak lokasi lainnya, Lords Kakadu dan Arnhemland Safaris menjelajahi Arnhem Land, yaitu objek wisata utama di Kakadu yang mencakup Ngarai Koolpin yang kurang dikenal dan tempat peristirahatan yang memanjakan seperti Bamurru Plains, penginapan ramah lingkungan Davidson’s Arnhemland Safaris, dan Cicada Lodge yang 100 persennya dimiliki dan dioperasikan oleh orang Aborigin di Nitmiluk National Park. Lords juga menggabungkan akomodasi sendiri ke dalam perjalanan dengan perkemahan semak’ eksklusif untuk 12 tamu yang berada di Kakadu. Akomodasi tersebut dilengkapi ranjang yang nyaman dan perapian untuk hidangan malam dan berbagi kisah. Maruku Arts, Uluru-Kata Tjuta National Park, Northern Territory © Tourism Australia Maruku ArtsHimpunan karya seni di Uluru, Maruku Arts, mengoperasikan ruang-ruang galeri dan lokakarya melukis luar ruangan di salah satu bentang alam paling ikonis di Australia. Berpartisipasi dalam lokakarya melukis titik atau membuat punu punu adalah praktik mengukir kayu, melibatkan dekorasi dengan garis-garis yang dibuat melalui teknik pembakaran, selama proses tersebut Anda akan mengenal serangkaian alat pembuat karya seni, mempelajari beberapa kata dalam bahasa Aborigin yang diucapkan seniman tersebut, dan diundang untuk menyampaikan kisah pribadi yang penting dalam karya seni Anda sendiri. Kelas dikelola oleh seniman Aborigin yang mapan, berpengetahuan luas, dan ramah, dengan bantuan penerjemah. Atau, lihatlah berbagai karya seni dan patung kayu organisasi yang mengesankan di Maruku Arts Gallery yang berlokasi di dekatnya. Organisasi ini juga menampilkan 'inma' - yang berarti tarian dan lagu upacara. Nitmiluk Tours, Nitmiluk National Park, Northern Territory © Tourism Australia Nitmiluk ToursTiga jam berkendara ke tenggara Darwin terdapat rangkaian 13 ngarai yang menjulang dan Katherine River mengalir di antaranya. Ini adalah Nitmiluk National Park rumah bagi orang-orang Jawoyn dan berbagai keindahan asli. Nitmiluk Tours, perusahaan yang 100% dimiliki orang-orang Aborigin, memungkinkan Anda menikmati sepenuhnya kawasan dan budaya Jawoyn melalui pesiar, jelajah alam, tur gua, berenang, perjalanan dengan kano, dan penerbangan wisata helikopter - belum lagi penawaran akomodasinya, yang mencakup segalanya mulai dari bumi perkemahan dan pondok, hingga Cicada yang mewah. Pastikan untuk berjalan kaki menuju titik pengamatan ngarai pertama untuk menikmati matahari terbenam atau matahari terbit - atau, jika Anda lebih dekat ke Katherine, bergabunglah dengan salah satu tur jalan kaki berpemandu Nitmiluk Tours yang melintasi Cutta Cutta Caves nan memesona. SeaLink NT, Tiwi Islands, Northern Territory © Shaana McNaught SeaLink NT, Tiwi IslandsJelajahi Tiwi Islands beriklim tropis yang luar bisa dalam tur wisata Tiwi Island bersama SeaLink NT. Berada di dekat Darwin di Northern Territory, kepulauan ini adalah rumah bagi suku Aborigin dengan pengaruh Polinesia yang unik. Karya seni tradisional mereka diminati dunia internasional karena gayanya yang khas. Temui para seniman, rasakan sambutan dari negara ini dengan upacara merokok kuno, buat kain yang dicetak di layar sendiri, kunjungi museum dan gereja yang berbeda, dan nikmati gaya hidup yang sangat santai selama kunjungan Anda; Anda juga berkesempatan membeli karya seni di lokasi tersebut. SEIT Outback Australia, Uluru-Kata Tjuta National Park, Northern Territory © Archie Sartracom, Tourism Australia SEIT Outback AustraliaPenduduk asli Uluru, Anangu Aborigin, menganggap area tersebut sebagai rumah selama lebih dari tahun. SEIT – yang merupakan kependekan dari Spirit, Emotion, Intellect, dan Task - berfokus pada menceritakan warisan ini kepada pengunjung melalui tur kelompok kecil dan pengalaman yang unik. Secara khusus, tur satu hari Hill Cave SEIT, yang dipimpin pemandu Aborigin, fokus pada sorotan pada Songlines kisah penciptaan menurut para leluhur, serta lukisan gua yang mengilustrasikan kisah tersebut. Tur Patji yang sama menariknya, akan membawa Anda melewati batas taman utama ke daerah asal keluarga tradisional Uluru. Sambil menikmati minum teh sore hari, duduklah bersama orang-orang Aborigin untuk mendengar kisah perjuangan epik mereka untuk memperoleh hak-hak kepemilikan tanah di Central Australia, ditambah kisah intim lainnya tentang kehidupan Aborigin di wilayah tersebut. Top Didj Cultural Experience & Art Gallery, Katherine, Northern Territory © James Fisher, Tourism Australia Top Didj Cultural Experience & Art GallerySaksikan karya seni dalam jumlah besar, didgeridoo, artefak, hadiah, dan buku di galeri seni Top Didj, sebelum bergabung dengan wisata budaya yang dipimpin seniman Aborigin di pagi atau sore hari. Berlokasi di kota Katherine, tiga jam berkendara ke selatan dari Darwin, organisasi ini menjalankan wisata budaya Top Didj yang populer, yakni sesi dua setengah jam yang dipimpin seniman Aborigin karismatik, Manuel Pamkal. Perkaya pemahaman praktis Anda tentang adat istiadat setempat, praktik berburu, dan pembuatan karya seni selama pagi atau sore hari yang menarik ini - dan pulang ke rumah setelah melukis karya seni Anda sendiri. Atau, jelajahi rangkaian karya Jawoyn dan Dagoman yang luar biasa, serta yang berasal dari Arnhem Land, Kimberley, dan the Central Western Desert. Venture North Safaris, Arnhem Land, Northern Territory © James Fisher, Tourism Australia Venture North SafarisAtur perjalanan privat atau ikuti safari berdurasi 4 atau 5 hari dengan kendaraan 4WD mewah Venture North menawarkan safari 4WD mewah yang memenangkan banyak penghargaan, yang menuju ke Arnhem Land, Kakadu, dan Garig Gunak Barlu National Park dari Darwin. Kunjungi komunitas Aborigin pecandu seni Gunbalanya. Anda akan memulai tur karya seni cadas dengan pemandu Aborigin, melintasi daerah berbatu dan lahan basah Kakadu, lalu bermalam di perkemahan bungalow semak eksklusif Venture North, yang menghadirkan pemandangan ke perairan Cobourg Marine Park yang jernih, ditambah kamar-kamar pedesaan yang nyaman yang tersebar di hamparan dedaunan asli. Voyages Indigenous Tourism Australia, Ayers Rock Resort, Uluru-Kata Tjuta National Park, Northern Territory © Tourism Australia Voyages Indigenous Tourism Australia – Ayers Rock ResortDi bukit pasir di samping Uluṟu, terdapat Ayers Rock Resort, gabungan akomodasi dan wisata budaya yang terdiri dari lima pengalaman menginap yang berbeda dan lebih dari 65 tur. Resor ini menawarkan penginapan yang sunyi, dari sana Anda dapat menjelajahi Uluṟu-Kata Tjuṯa National Park yang menakjubkan dan menyaksikan monolitnya yang terkenal keduanya setinggi 860 meter Uluru dan kubah bertingkat Kata Tjuta, serta untuk menghubungkan Anda lebih erat dengan budaya Aborigin yang kaya dan bentang alam Red Centre. Naiki unta menuju matahari terbenam; telusuri tanaman hijau nan subur di kaki Uluru – sambil melihat karya seni cadas yang mengilustrasikan kisah terbentuknya tempat tersebut seiring Anda menyusurinya; atau nikmati makan malam Sounds of Silence di bawah kanopi bintang, wisata malam hari ditemani makanan, budaya dan astronomi, yang diadakan di tengah bukit pasir dan lingkungan sekitarnya yang sunyi. Queensland Janbal Gallery, Mossman, Queensland © Tourism Australia Janbal GalleryJanbal milik suku Aborigin di wilayah Cairns adalah galeri pertama dan terkemuka, tetapi tempat ini lebih dari sekadar hanya memberikan peluang untuk menatap lukisan di dinding. Para tamu didorong untuk mengajukan pertanyaan tentang para seniman - pemilik Brian Binna’ Swindley, yang juga seorang seniman ternama, bersemangat untuk berbagi kisahnya dan menyoroti betapa pentingnya seni untuk mempertahankan budaya lokal. Anda juga akan diajak ikut serta dalam lokakarya kreatif Binna. Pesan kelas seni dan Anda tidak hanya akan belajar tentang teknik titik yang digunakan di bagian Queensland ini, tetapi Anda juga akan membuat lukisan Anda sendiri untuk dibawa pulang. Galeri ini juga menampilkan artefak Aborigin yang penting, termasuk didgeridoo dan perhiasan buatan tangan oleh pengrajin dari seluruh Far North Queensland. Voyages Indigenous Tourism Australia, Mossman Gorge Centre, Queensland © James Fisher, Tourism Australia Voyages Indigenous Tourism Australia – Mossman Gorge CentreMossman Gorge Centre milik suku Aborigin dapat dicapai dengan 20 menit berkendara ke utara Port Douglas di Daintree Rainforest yang terdaftar sebagai Warisan Dunia. Di sana suku Kuku Yalanji telah hidup selama beberapa abad. Wisata juga merupakan titik awal untuk wisata khas pemenang banyak penghargaan mereka, yaitu Ngadiku Indigenous Guided Dreamtime Walks. Ngadiku berarti 'kisah dan legenda dari masa lampau' dalam bahasa lokal Kuku Yalanji, dan itulah yang dapat Anda harapkan dari penjelajahan hutan hujan yang mengesankan ini. Pelajari tentang makanan ala hutan semak dan obat-obatan hutan semak, pelajari keahlian seperti cara membuat 'sabun hutan semak', dan nikmati upacara merokok tradisional. Wisata bersama pemandu ini diakhiri dengan menyisip teh seduhan hutan semak dan menikmati roti semak. South Australia Wilpena Pound Resort, Flinders Ranges, South Australia © Archie Sartracom, Tourism Australia Wilpena Pound ResortJika Anda ingin mengunjungi salah satu bentang alam tertua di bumi, tempat yang terbaik untuk memulai adalah di Wilpena Pound Resort di South Australia, di bagian Flinders Ranges yang dramatis. Tempat ini satu-satunya akomodasi dalam lingkup Ikara-Flinders Ranges National Park. Pemilik dan operatornya adalah pemilik tradisional dari suku Adnyamathanha. Di sini terdapat berbagai tur budaya Aborigin berpemandu yang mencakup tur 4WD untuk mengunjungi lokasi fosil berusia 550 juta tahun dan pahatan cadas kuno, tur jalan kaki menuju Old Wilpena Station, dan penerbangan berpemandangan indah melintasi Wilpena Pound yang luar biasa, yaitu amfiteater alami berusia 800 juta tahun. Dengan lokasi 430 kilometer 267 mil di utara Adelaide, Resort ini menyediakan berbagai opsi akomodasi, dari kamar motel dan tenda kemah 'glamping' bergaya safari, serta lahan kemah semak dengan aliran listrik maupun tanpa aliran listrik. Western Australia Dale Tilbrook Experiences, Swan Valley, Western Australia © Tourism Australia Dale Tilbrook ExperiencesDengan Dale Tilbrook, seorang wanita Wardandi Bibbulmun, selami dan kagumi dunia makanan, obat-obatan, budaya, dan seni Aborigin dengan penekanan pada makanan ala hutan semak sebagai makanan dan obat-obatan. Dalam dua wisata makanan hutan semak khas Dale, nikmati pencicipan berbagai macam makanan ala hutan semak seperti quandong, plum Kakadu, finger lime setempat, buah muntry, salty grape, bayam setempat, saltbush, serta herba dan rempah-rempah yang lain. Herba semak ditambahkan ke daging kanguru dan emu untuk memberikan tambahan cita rasa. Dalam wisata Aboriginal Art and Dreamtime Stories’, riwayat seni dan lukisan titik Aborigin akan dijelaskan, dan peserta dapat membuat karya mereka sendiri untuk dibawa pulang. Keahlian Dale dalam menuturkan cerita sangat bermanfaat ketika dia menerangkan tentang Local History and Culture’. Semua ini akan dialami di tiga tempat di pinggir kota Perth, termasuk kilang anggur Mandoon Estate yang menakjubkan di Swan Valley. Dale juga bisa datang ke tempat Anda di Perth. New South Wales Australian Museum, First Australians Gallery, Sydney, New South Wales © Archie Sartracom, Tourism Australia Museum Australia – Tur PribumiPelajari tentang kepercayaan dan gaya hidup budaya hidup paling tua di dunia, di museum tertua di negara ini, dengan tur bersama pemandu yang dikhususkan ke galeri-galeri orang Australia Pertama di Australian Museum di jantung kota Sydney. Dalam salah satu koleksi terbaik artefak Aborigin dan Torres Strait Islander, museum ini menampung lebih dari senjata, ornamen tubuh, peralatan, lukisan kulit kayu, dan mainan Penduduk Asli Australia, serta karya seni kontemporer dan patung dari seluruh negeri. Koleksi unggulannya termasuk batu asah yang berusia lebih dari tahun, lukisan kulit kayu kuno, lukisan titik modern dan telur emu berukir, serta topeng buaya yang terbuat dari cangkang kura-kura, hiasan kepala berbulu, dan ornamen cangkang kerang mutiara yang masih dipakai untuk ritual dan tarian upacara di Torres Strait Islands. Terdapat juga keranjang anyaman yang rumit, karya seni yang terbuat dari jaring ghost fishing, perhiasan kerang yang sangat indah, drum, kano, dan alat penduduk asli untuk berburu dan memancing. The Royal Botanic Garden Sydney, Aboriginal Heritage Tour, Sydney, New South Wales © Archie Sartracom, Tourism Australia The Royal Botanic Garden Sydney – Aboriginal Heritage Tour Aboriginal Heritage Tour berdurasi 90 menit ini melintasi Royal Botanic Garden di Sydney berada tepat di belakang Sydney Opera House. Tur ini menjelajahi warisan Aborigin yang kaya di kebun raya ini dengan mengenal berbagai manfaat tanaman yang tumbuh di sini. Cari dan cicipi makanan ala hutan semak Australia seiring Anda berjalan sambil bercengkrama, lalu identifikasi tanaman yang digunakan untuk obat-obatan dan tempat berteduh. Kumpulkan buah-buahan musiman, beri, dan biji-bijian dalam wadah coolamon tradisional piring datar yang terbuat dari kulit kayu, pelajari metode memasak tradisional dan cara memadukan makanan ala hutan semak ke dalam makanan Anda sendiri di rumah, lalu coba beberapa resep yang terinspirasi oleh makanan ala hutan semak. Royal Botanic Garden juga mengadakan kelas seni Aborigin yang memungkinkan Anda mengetahui cara menggunakan tanaman dan elemen lain kebun raya tersebut - kayu, oker, rumput, dan kulit kayu, serta cat dan kuas alami - untuk membuat suvenir terbaik, karya seni yang unik untuk Anda bawa pulang. Victoria Bunjilaka Aboriginal Cultural Centre, Melbourne Museum, Melbourne, Victoria © Archie Sartracom, Tourism Australia Bunjilaka Aboriginal Cultural Centre – Melbourne MuseumBunjilaka Aboriginal Cultural Centre memiliki salah satu koleksi budaya Aborigin yang paling penting di dunia. Memiliki arti 'rumah Bunjil' rajawali ekor baji leluhur, roh pencipta, museum ini didesain dengan bekerja sama dengan orang-orang Aborigin termasuk penduduk asli Melbourne, Boon wurrung dan Woi wurrung. Bagian dari Melbourne Museum di Melbourne, museum ini menawarkan pengalaman budaya Aborigin yang intensif, interaktif, dan menginspirasi, menampilkan karya seni, penuturan cerita, dengan multimedia yang canggih Discover more Aboriginal experiences Suku Aborigin – Sejarah, Asal Usul dan Kehidupannya Lengkap – Untuk pembahasan kali ini kami akan mengulas mengenai Suku Aborigin yang dimana dalam hal ini meliputi sejarah, asal usul dan kehidupannya lengkap, nah agar lebih memahami dan dimengerti simak ulasannya dibawah ini. Kata aborigin dalam bahasa Inggris mempunyai arti “penduduk asli/penduduk pribumi”,dan mulai digunakan sejak abad ke-17 untuk mengacu kepada penduduk asli Australia saat berasal dari Asia Tenggara, memasuki benua Australia dari utara. Pada waktu itu,Australia bersatu dengan pulau Irian. Memang, ada banyak kesamaan antara kebudayaan kuno Asia Tenggara dan kebudayaan Aborigin. Suku Aborigin adalah suku Pribumi Australia. LOKASI Suku Aborigin tinggal dan memeliharatanah air Australia selama hampir tahun dengan menggunakan sistem pemerintahan danhukum mereka sendiri. Konon, mereka menetap di benua terkecil itu selama ribuan tahun yanglalu. Tapi kemudian mereka tergeser oleh bangsa pendatang yang lebih cerdas´ berkulit putihdari Eropa. Secara fisik, suku Aborigin seperti orang-orang Papua berkulit gelap dan berambutkeriting, tapi sekarang sudah mengalami perubahan, yakin berkulit kecoklat-coklatan danberambut ikal. Baca Artikel Terkait Tentang Materi “Suku Maori” Sejarah & Ciri Fisik – Mata Pencaharian – Kebudayaan Asal mulanya mereka mempunyai daratan yang sama. Para ilmuwan menyatakan, karenaproses alam yang bergerak, daratan besar itu kemudian berpisah. Di sebelah selatan menjadiAustralia. Sementara di daratan sebelah utara menjadi pulau Papua yang masuk wilayahIndonesia. Klop dengan nama Australia berasal dari kataAustralis ´ yang dalam bahasa latinberarti Selatan´, sementara orang Belanda menyebut Australische ´ yang memiliki berkulit gelap itu kemudian terpisah. Keduanya menjalani nasib sendiri-sendiri dinegara yang berbeda. Baik di Indonesia maupun Australia mereka sulit eksis karenaketerbelakangan. Rupanya, perbedaan warna kulit yang mencolok di daratan selatan menjadikansuku aborigin kurang berutung. Kaum pendatang di Australia yang berkulit putih mulusmemperlakukan peduduk asli itu tidak sewajarnya. Di saat persemakmuran Australia berdiri pada1 Januari 1701 misalnya, suku aborigin dianggap bagian dari fauna! Para pendatang, menganggap penduduk aborigin Australia sebagai nomad yang dapatdiusir dari tempatnya untuk digunakan sebagai kawasan pertanian. Hal ini berakibat fatal, yaituterputusnya bangsa aborigin dari tempat tinggal, air dan sumber hidupnya. Terlebih lagi dengankondisi mereka yang lemah akibat penyakit. Kondisi ini mengakibatkan populasi bangsa aboriginberkurang hingga 90% pada periode antara 1788 – 1900. Seluruh komunitas aborigin yang beradapada daerah yang cukup subur di bagian selatan bahkan punah tanpa jejak. Suku Aborigin dan Torres Strait Islander adalah suku Pribumi Australia. Mereka sudah tinggal dan memlihara tanah air Australia selama hampir tahun dengan menggunakan sistem pemerintahan dan hukum mereka sendiri. Konon, mereka menetap di benua terkecil itu selama ribuan tahun yang lalu. Tapi kemudian mereka tergeser oleh bangsa pendatang yang lebih “cerdas” berkulit putih dari Eropa. Secara fisik, suku Aborigin seperti orang-orang Papua berkulit gelap dan berambut keriting, tapi sekarang sudah mengalami perubahan, yakin berkulit kecoklat-coklatan dan berambut ikal. Asal mulanya mereka mempunyai daratan yang sama. Para ilmuwan menyatakan, karena proses alam yang bergerak, daratan besar itu kemudian berpisah. Di sebelah selatan menjadi Australia. Sementara di daratan sebelah utara menjadi pulau Papua yang masuk wilayah Indonesia. Klop dengan nama Australia berasal dari kata “Australis” yang dalam bahasa latin berarti “Selatan”, sementara orang Belanda menyebut “Australische” yang memiliki makna sama. Suku berkulit gelap itu kemudian terpisah. Keduanya menjalani nasib sendiri-sendiri di negara yang berbeda. Baik di Indonesia maupun Australia mereka sulit eksis karena keterbelakangan. Rupanya, perbedaan warna kulit yang mencolok di daratan selatan menjadikan suku aborigin kurang berutung. Kaum pendatang di Australia yang berkulit putih mulus memperlakukan peduduk asli itu tidak sewajarnya. Di saat persemakmuran Australia berdiri pada 1 Januari 1701 misalnya, suku aborigin dianggap bagian dari fauna! Wuiih.. ini sih, bener-bener parah. Namun pandangan Australia berangsur-angsur melunak dan memberikan ruang bagi penduduk asli tersebut setelah konon banyak melakukan pembunuhan. Caranya yang agak unik Australia menetapkan politik asimilasi untuk mencampur dua jenis manusia yang memiliki warna kulit berbeda itu. Anak-anak aborigin dipisahkan dari keluarganya secara paksa kemudian di tempatkan di panti asuhan untuk “diputihkan”. Sebagian kemudian diasuh oleh si kulit putih sebagai pekerja atau pembantu. Anak laki-laki dipungut untuk dijadikan pekerja gratis di peternakan terpencil. Mereka dihukum berat ketika berbuat tidak salah atau sesuatu yang tidak menyenangkan. Sama seperti apartheid, rupanya nasib aborigin juga ditentukan oleh warna kulit. Dari sinilah muncul istilah “the stolen generation” yang membuat Perdana Menteri Australia sekarang, Kevin Rudd, meminta maaf. Di awal 2006, pemerintah Australia pernah melemparkan isu pemusnahan etnik pada penduduk Papua oleh Indonesia. Entah dari mana isu itu berkembang, media setempat mengopinikan secara besar-besaran. Herman Wanggai, pimpian sparatis Papua yang mendapat visa Australia mengatakan, ratusan ribu warga Papua telah dibantai habis. Meski pun berkata seperti itu, Wanggai tidak bisa membuktikan kata-katanya. Terlebih, ketika aktivis HAM menelusuri laporan tersebut juga tidak menemukan pembantaian. Banyak yang menduga, ini politik Australia untuk mendeskreditkan Indonesia di mata internasional. Australia seolah ingin menumpahkan “dosa” pada Indonesia atas perlakuan terhadap suku berkulit gelap itu. Karena tidak terbukti, tuduhan itu seolah menjadi bumerang bagi Australia atas perlakuan pada suku Australia selalu cari masalah dengan Indonesia, ya.. Masih inget, Autralia kelurain warning travel yang sebenarnya gak perlu bagi warganya yang mau ke Indonesia! Baca Artikel Terkait Tentang Materi Komponen Peta Asal Usul Aborigin Berikut ini terdapat asal usul aborigin, terdiri atas Aborigin Di Australia Australia adalah negara terbesar ke-enam di dunia dari segi luasnya, lebih kecil bila dibandingkan dengan Rusia, Kanada, Cina, Amerika Serikat, dan Brasil. Australia adalah benua terkecil, sedangkan yang terbesar adalah Asia yang luasnya km2. Manusia menghuni Australia sudah sejak lama sekali. Penghuni asli Australia disebut orang Aborijin. Dalam bahasa Latin kata aborigine’ mempunyai arti dari awal mula’. Umumnya orang percaya bahwa mereka aborijin telah tinggal di Australia setidaknya selama tahun. Beberapa bukti ilmiah terbaru menunjukkan bahwa manusia telah menghuni Australia lebih dari tahun yang lalu. Tampaknya beberapa orang Aborijin ini datang dari Asia Tenggara selama zaman es. Pada waktu itu permukaan laut lebih rendah daripada sekarang dan celah pemisah antara Australia dan Indonesia lebih sempit. Bangsa Aborigin Bangsa Aborigin adalah penduduk asli/awal benua Australia dan kepulauan disekitarnya, termasuk juga mencakup Tasmania dan kepulauan selat Torres. Kata aborigin dalam bahasa Inggris mempunyai arti “penduduk asli/penduduk pribumi”, dan mulai digunakan sejak abad ke-17 untuk mengacu kepada penduduk asli Australia saat itu. Saat ini belum ada teori yang jelas atau berterima tentang asal ras bangsa aborigin Australia. Meskipun mereka bermigrasi ke Australia melalui Asia Tenggara, namun tidak ada keterkaitan dengan populasi suku-bangsa di Asia, dan juga dengan penduduk kepulauan yang berdekatan, seperti Melanesia dan Polinesia. Saat pertama kali terjadi kontak dengan Eropa, diperkirakan terdapat sekitar hingga 1 juta orang tinggal di Australia. Level populasi ini diperkirakan pula telah cukup stabil selama ribuan tahun. Sejak Hunian Orang Eropa Pada tahun 1770, James Cook mendarat di pantai timur Australia dan mengambilalih daerah tersebut dan menamakannya sebagai New South Wales, sebagai bagian dari Britania Raya. Kolonisasi Inggris di Australia, yang dimulai pada tahun 1788, menjadi bencana besar bagi penduduk aborigin Australia. Wabah penyakit dari eropa, seperti cacar, campak dan influenza menyebar di daerah pendudukan. Para pendatang, menganggap penduduk aborigin Australia sebagai nomad yang dapat diusir dari tempatnya untuk digunakan sebagai kawasan pertanian. Hal ini berakibat fatal, yaitu terputusnya bangsa aborigin dari tempat tinggal, air dan sumber hidupnya. Terlebih lagi dengan kondisi mereka yang lemah akibat penyakit. Kondisi ini mengakibatkan populasi bangsa aborigin berkurang hingga 90% pada periode antara 1788 – 1900. Seluruh komunitas aborigin yang berada pada daerah yang cukup subur di bagian selatan bahkan punah tanpa jejak. Sesudah tahun 1788, orang-orang Eropa secara sedikit demi sedikit mengambil alih seluruh Australia. Mereka dengan segera melebihi jumlah orang Aborijin Australia. Orang Eropa menganggap tanah Australia sebagai tanah yang luas dan umumnya kosong oleh karena itu, mereka menyebutnya terra nullius, yaitu tanah yang kosong. Orang Aborijin memandang segala hal secara berbeda. Mereka telah menempati Australia selama ribuan tahun. Bagi mereka, tanah mereka telah dijajah oleh orang Eropa dan tanah itu tidak lagi memiliki mereka. Pada tahun 1788, ketika orang Eropa mulai mendirikan daerah hunian di Australia, jumlah orang Aborijin mungkin berkisar antara dan 1,5 juta orang. Suku-suku Aborijin harus memutuskan apakah mereka akan menolak atau menerima pendatang baru. Pada umumnya terjadi perlawanan dari orang Aborijin terhadap hunian orang Eropa dan seringkali perlawanan itu keras. Namun, orang Aborijin seringkali bekerja bagi orang Eropa sebagai pemandu, pembantu rumah tangga, pekerja pertanian, penjaga ternak, dan bahkan sebagai poli. Dampak Asimilasi Berikut ini terdapat beberapa dampak asimilasi suku aborigin, terdiri atas Dampak Kesehatan Timbul penyakit baru yang menyebabkan wabah yang menyebabkan kematian banyak orang Aborijin. Obat bius, seperti tembakau dan alkohol juga diperkenalkan. Keduanya terus-menerus menimbulkan akibat yang serius terhadap kesehatan orang Aborijin. Pola Konsumsi Makanan baru, seperti tepung gandum dan gula juga punya andil dalam memperburuk kesehatan masyarakat Aborijin yang sudah terbiasa dengan makanan yang berbeda. Banyak orang Aborijin yang mulai pola hidup seperti orang eropa hal ini di fasilitasi oleh Pemerintah colonial memberikan pakaian dan makanan, bahkan perumahan kepada orang-orang Aborijin yang tidak mempunyai tempat tinggal. banyak orang Aborijin yang dipaksa tinggal di daerah suaka yang kecil atau di daerah misi gereja. Dalam upaya untuk membuat mereka menjadi lebih seperti orang Eropa, beribu-ribu anak Aborijin dilepaskan dari keluarga Aborijinnya untuk dibesarkan dengan cara Eropa. Dampak Kebudayaan Pada saat itu dianggap bahwa orang Aborijin akan lebih baik keadaannya jika hidupnya seperti cara orang Eropa. Namun, Dengan demikian, orang Aborijin Australia kehilangan kebebasan mereka dan kehidupannya menjadi sangat terkendalikan. Mereka benar-benar mengalami bahaya kehilangan kebudayaan mereka. Pemerintah menyadari keadaan orang Aborijin yang menyedihkan tersebut. Hal ini ternyata mempunyai dampak yang merusak bagi kehidupan orang Aborijin dan budayanya, dan masih dirasakan sampai sekarang. Sekarang kebijakan untuk “mengasimilasikan” orang Aborijin ke dalam budaya Eropa telah dihentikan. Sejak tahun 1960-an. Baca Artikel Terkait Tentang Materi Benua Australia Konflik Tasmania Dan Genosida Di Tasmania konflik yang terjadi di antara para pemukim dari Eropa dan orang-orang Aborijin adalah yang paling serius. Semakin meningkatnya konflik tersebut akhirnya mendorong Pemerintah Kolonial untuk menyatakan undang-undang darurat perang. Banyak orang Aborijin yang terbunuh dengan adanya sistem ini. Populasi Aborijin Tasmania menurun dari kira-kira 6,000 orang pada tahun 1803 menjadi kira-kira 500 orang pada tahun 1830. Orang-orang yang tersisa dipindahkan ke Pulau Flinders di Selat Bass. Sebagian dari orang-orang ini melakukan perkawinan silang dengan orang-orang Eropa, tetapi menjelang tahun 1976 tidak ada lagi orang Aborijin Tasmania yang masih hidup. Perburuan terhadap orang Aborigin sudah dilakukan sejak masa awal Australia-Eropa. Tujuan pertamanya adalah merebut tanah-tanah kaum Aborigin, untuk dijadikan lading pertanian dan peternakan para pendatang Eropa. Di Tasmania, sebuah pulau di tenggara Australia, misalnya, lebih dari orang Aborigin dibantai pada 1820. Suasananya, ketika itu, tak ubahnya perburuan binatang liar. Para korban, yang sebagian besar sama sekali tak bersenjata, ditembaki secara membabi buta, atau ditikam dengan kelewang. Tak peduli wanita atau anak-anak, orang uzur atau yang sudah menyatakan berserah diri. Segelintir sisa yang selamat lalu naik ke gunung-gunung batu, hidup sepenuhnya dari sedekah alam. Tapi, 17 tahun sebelumnya, beberapa pendatang Eropa sudah membunuh sejumlah Aborigin Tasmania di Ridson. Pada 1830, lebih dari pendatang Eropa membentuk apa yang mereka sebut Black Line Garis Hitam. Melalui garis imajiner ini, mereka berjuang untuk mengurung seluruh warga Aborigin Tasmania, dan menggiring mereka ke Semenanjung Tasmania, jauh dari masyarakat pendatang. Upaya ini gagal. Namun, sejumlah warga Aborigin bisa dipindahkan ke Pulau Flinders. Para kolonialis tidak hanya datang membawa bedil, kelewang, dan nafsu membunuh. Mereka juga memboyong berbagai penyakit “modern”, yang sebelumnya tak dikenal oleh orang Aborigin. Penyakit itu adalah influenza, cacar, campak, batuk rejan, dan -tentu saja- raja singa. Cacar, misalnya, berjangkit dengan buas di sekujur Victoria, New South Wales, Queensland, dan Australia Selatan, terutama pada periode 1829-1831. Setiap gubernur Australia dan pemerintah federal negeri itu hingga 1915 bercita-cita untuk mengucilkan orang Aborigin. Mereka melancarkan program “asimilasi”, istilah eufimistis untuk pemusnahan. Menurut program itu, orang Aborigin harus berasimilasi dengan “masyarakat normal”, atau “mati sebagai ras”. Masyarakat normal yang dimaksud tentulah masyarakat kulit putih. Titik Balik Masyarakat Aborigin Sejak tahun 1960-an situasinya berubah Orang Aborijin Australia mempunyai kewarganegaraan penuh. Pemerintah Australia telah mulai berkonsultasi dengan masyarakat Aborijin mengenai kebutuhan mereka. Gaji, pendidikan, perumahan, layanan kesehatan, dan layanan kesejahteraan telah jauh dikembangkan. Namun, perbaikan ini tidak mengarah ke perbaikan mutu kehidupan orang Aborijin agar mencapai standar yang sama dengan orang Australia yang non-Aborijin. Rekonsiliasi Orang Aborogin dan Torres Strait Islander menderita kerugian besar dan ketidakadilan setelah orang-orang Inggris bermukim di sini pada akhir abad ke 18. Banyak dari antara mereka yang menjadi korban penyakit yang dibawa oleh orangorang kolonial tersebut; banyak sekali dari suku pribumi ini yang direbut tanahnya; and sistem sosial serta kekeluargaan mereka menjadi terganggu dan hampir musnah. Sampai tahun 1960-an sedikit sekali pengakuan resmi yang diberikan pada kebudayaan serta sejarah orang Aborigin dan Torres Strait Islander atau pada hak serta tanggung jawab mereka sebagai warganegara. Walaupun Undang-undang Kebangsaan dan Kewarganegaraan / Nationality and Citizenship Act 1948 memberikan kewarganegaraan pada semua penduduk Australia, tidak semua suku pribumi Australia menerima semua hak politik, sosial dan ekonomi yang dinikmati orang Australia lainnya sampai lama setelahnya. Sejak tahun 1967 waktu suku Aborigin dan Torres Strait Islander menerima hak untuk memberikan suara pada semua pemilihan Commonwealth, State dan Territory, suku pribumi Australia telah berjuang banyak untuk mencapai keadilan dan persamaan hak. Kebijakan Pemerintah tentang penentuan kebulatan tekad sendiri telah mendorong keterlibatan suku pribumi dalam mengambil keputusan yang menyangkut kehidupan mereka. Pada tahun 1991 Dewan Rekonsiliasi Aborigin dibentuk untuk mempromosikan Rekonsiliasi antara suku pribumi Australia dengan penduduk Australia lainnya. Untuk Dewan ini, tujuan Rekonsiliasi adalah persatuan negara Australia yang menghormati tanah air kita; menghargai warisan suku Aborigin dan Torres Strait Islander; dan memberi keadilan serta persamaan hak pada semua orang. Pada tahun 1966 Parlemen Australia membuat pernyataan komitmen tentang persamaan hak bagi semua orang Australia. Ini termasuk komitmen dalam proses rekonsiliasi dengan suku Aborigin dan Torres Strait Islander – khususnya dalam mengatasi kerugian sosial dan ekonomi mereka. Pada bulan November 2000 pemerintah Australia dan semua pemerintah State dan Territory membuat komitmen untuk meneruskan dukungan mereka pada proses Rekonsiliasi dengan memperkecil kerugian yang dihadapi oleh suku pribumi Australia. Rekonsiliasi sekarang merupakan hal yang penting bagi masyarakat Australia. Ada banyak debat tentang apa arti rekonsiliasi, dan tentang bagaimana hal tersebut dapat dicapai di Australia. Proses menuju rekonsiliasi bukanlah suatu proses yang mudah, tapi Australia telah mengambil beberapa langkah penting dalam beberapa tahun terakhir ini. Pendidikan merupakan bagian penting dari proses ini. Orang Aborijin Pada Masa Kini Penduduk Aborijin telah berkembang jumlahnya akhir-akhir ini dan distribusinya telah banyak berubah. Penduduk Aborijin kira-kira 2001 orang atau kira-kira 2% atau sekitar 2,3% dari penduduk Australia yang berjumlah 20 juta kompas, 2007. Mayoritas orang Aborijin sekarang tinggal di kota-kota. Beberapa orang Aborijin Australia telah menikah dengan orang yang bukan Aborijin. Banyak anak-anak dari hasil pernikahan ini yang tetap tinggal dalam masyarakat Aborijin dan menganggap dirinya sebagai orang Aborijin. Banyak dari mereka yang dulunya terpisah dari keluarganya melalui kebijakan lama untuk menggunakan cara Eropa kemudian berupaya menyatu kembali dengan keluarganya. Jumlah populasi suku aborijin pada sensus penduduk tahun 2001. New South Wales – 134,888 Queensland – 125,910 Western Australia – 65,931 Northern Territory – 56,875 Victoria – 27,846 South Australia – 25,544 Tasmania – 17,384 ACT – 3,909 Other Territories – 233 Permasalahan Baru Kemiskinan lebih umum dijumpai di antara orang Aborijin daripada orang Australia lainnya. Mereka mengalami tingkat pengangguran yang tinggi; pendapatan yang lebih rendah; harapan hidup yang lebih pendek; tingkat kematian bayi yang lebih tinggi; lebih banyak penyakit, seperti kencing-manis, kelainan dalam peredaran darah dan pernapasan, penyakit telinga dan kelainan mata; keadaan perumahan yang berdesak-desakan, terutama di daerah pedesaan dan daerah terpencil. Komitmen Pemerintah Pemerintah Australia berketetapan untuk memperbaiki situasi ini. Pemerintah mengakui bahwa perbaikan hanya akan dapat dicapai melalui perubahan dalam sikap masyarakat dan dengan mengakui hak-hak warganegara asli Australia tersebut. Perbaikan kesehatan dan perumahan dianggap sebagai hal yang sangat penting. Layanan pendidikan juga telah diberikan kepada orang-orang Aborijin. Bantuan pemerintah telah memungkinkan orang-orang Aborijin untuk memasuki semua tingkat pendidikan serta pendidikan tinggi dan pendidikan teknik. Di beberapa tempat, masyarakat Aborijin telah mendirikan sekolah-sekolah dengan dukungan pemerintah. Baca Artikel Terkait Tentang Materi Ras Adalah Kehidupan Suku Aborigin Mereka hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan food gathering dan ini sudah dipertahankan semenjak beribu-ribu tahun sebelum kedatangan bangsa kulit putih. Mereka tidak mengenal pertanian, karena, disamping faktor lingkungan alam yang kurang mendukung untuk diolah menjadi lahan pertanian, juga disebabkan oleh tidak adanya bibit tanaman untuk pertanian. Kenyataan ini ternyata dapat mereka pertahankan dalam waktu yang lama, karena cara ini mereka anggap paling effesien dalam memanfaatkan alam sebagai sumber kehidupan. Orang Aborigin menganggap diri mereka adalah bahagian dari alam dan semua benda-benda alam seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan, menurut mereka, mempunyai sifat yang sama dengan manusia. Oleh karenanya dalam tradisi Aborigin sangat dipentingkan menjaga keharmonisan alam. Dalam mengumpulkan bahan makanan dan berburu mereka selalu menjaga keseimbangan alam serta mampu memelihara sumber kehidupan. Sehingga dengan demikian persediaan sumber itu selalu terjamin. Menurut tradisi orang-orang Aborigin, tanah adalah merupakan bahagian yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Tanah adalah suatu yang bersifat sakral, pemilikan atas tanah adalah mutlak untuk menjaga keharmonisan jagad raya. Sebelum kedatangan orang Eropa, hampir semua daratan Australia telah dipatok menjadi wilayah-wilayah suci setiap suku Aborigin. Wilayah dan batas-batasnya border mereka ingat dengan baik melalui balada-balada, karena mereka memang tidak melakukan pencatatan tertulis untuk itu. Di wilayah-wilayah itulah mereka melakukan segala kegiatan mulai dari berburu, mengumpul bahan makanan dan melaksanakan upacara-upacara keagamaan. Setiap border biasanya didiami oleh satu suku Aborigin yang masing masing memiliki spesifikasi budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Kebudayaan Suku Aborigin Etnik Aborigin, pemukim benua Australia, pada sekitar abad-abad kedatangan bangsa kulit putih abad ke 18, diperkirakan berjumlah orang. Mereka mendiami pantai-pantai utara dan timur serta lembah sungai Murray dan sebahagian kecil lainnya berada di Tasmania Kitley, 1994;362. Tidak ada penjelasan yang lebih pasti tentang kapan pertama kali orang-orang Aborigin mulai menempati benua ini, namun yang dapat dipastikan adalah bahwa mereka, sejauh yang dapat diketahui, merupakan pendatang paling awal di Australia yang datang dari belahan utara benua ini. Etnik Aborigin yang hidup di Australia ini mengembangkan kebudayaan sendiri berdasarkan kondisi lingkungan alam di mana mereka hidup. Mereka hidup dengan cara berburu dan mengumpulkan makanan food gathering dan ini sudah dipertahankan semenjak beribu-ribu tahun sebelum kedatangan bangsa kulit putih. Mereka tidak mengenal pertanian, karena, disamping faktor lingkungan alam yang kurang mendukung untuk diolah menjadi lahan pertanian, juga disebabkan oleh tidak adanya bibit tanaman untuk pertanian. Kenyataan ini ternyata dapat mereka pertahankan dalam waktu yang lama, karena cara ini mereka anggap paling effesien dalam memanfaatkan alam sebagai sumber kehidupan. Orang Aborigin menganggap diri mereka adalah bahagian dari alam dan semua benda-benda alam seperti binatang dan tumbuh-tumbuhan, menurut mereka, mempunyai sifat yang sama dengan manusia. Oleh karenanya dalam tradisi Aborigin sangat dipentingkan menjaga keharmonisan alam. Dalam mengumpulkan bahan makanan dan berburu mereka selalu menjaga keseimbangan alam serta mampu memelihara sumber kehidupan. Sehingga dengan demikian persediaan sumber itu selalu terjamin. Menurut tradisi orang-orang Aborigin, tanah adalah merupakan bahagian yang sangat penting dalam kehidupan mereka. Tanah adalah suatu yang bersifat sakral, pemilikan atas tanah adalah mutlak untuk menjaga keharmonisan jagad raya. Sebelum kedatangan orang Eropa, hampir semua daratan Australia telah dipatok menjadi wilayah-wilayah suci setiap suku Aborigin. Wilayah dan batas-batasnya border mereka ingat dengan baik melalui balada-balada, karena mereka memang tidak melakukan pencatatan tertulis untuk itu. Di wilayah-wilayah itulah mereka melakukan segala kegiatan mulai dari berburu, mengumpul bahan makanan dan melaksanakan upacara-upacara keagamaan. Setiap border biasanya didiami oleh satu suku Aborigin yang masing masing memiliki spesifikasi budaya dan bahasa yang berbeda-beda. Orang-orang Aborigin memiliki sistem kepercayaan “dream time”. Mereka percaya kepada arwah nenek moyang dan percaya kepada kekuatan-kekuatan magic yang dimiliki oleh alam terutama binatang. Disamping itu mereka juga dikenal sebagai pembuat obat yang diolah dari sumber-sumber alam. Hidup orang-orang Aborigin dikenal sebagai serba upacara. Hal itu mereka anggap penting dalam setiap pelaksanaan pekerjaan seperti perkawinan, kematian, kelahiran dan sebagainya. Peranan orang tua sangat menentukan dalam sistem kehidupan orang-orang Aborigin. Dewan Orang Tua Council of Elders berperan terutama dalam menentukan perang antar suku, upacara kelahiran, sunatan inisiasi, keuntungan, pembagian makanan dan upacara kematian. Nuansa sakral sangat dominan terlihat dalam kesenian Aborigin. Hal ini dibuktikan dengan ragam kesenian visual yang dihasilkan seperti lukisan, cukilan, goresan dan kerajinan menjalin serat Kitley, 1994;391. Kebanyakan ekspressi kesenian itu dihubungkan dengan arwah para leluhur mereka. Cukilan pada batu dan kayu merupakan peninggalan kesenian dekoratif tertua seperti yang terdapat di kepulauan Melville dan Bathrust yang digunakan untuk dekorasi-dekorasi makam. Orang-orang Aborigin juga sangat dikenal dengan lukisan mereka. Yang paling spesifik dari lukisan itu adalah media lukis yang digunakan yaitu zat pewarna yang alamiah. Pewarna ini mereka olah sendiri dengan menggunakan bahan-bahan murni dari alam terutama tumbuh-tumbuhan. Kesenian dalam Masyarakat Aborigin Australia Konsep kesenian bagi masyarakat tradisional Aborigin jauh berbeda dari konsep kesenian masyarakat Eropa. Dalam masyarakat Aborigin, aktivitas seperti tarian, nyanyian, gambaran pasir, membuat perabot atau menenun keranjang tidak dianggap sebagai aktivitas berbeda seperti Art and Design’ di Eropa. Semua aktivitas tersebut adalah bagian Dreaming dan kehidupan sehari-hari. Lagi pula, tidak ada konsepsi orang ahli kesenian dan seniman, karena semua orang adalah seniman. Orang Aborigin secara tradisional mengunakan bahan alami yang tersedia untuk keseniannya. Di seluruh Australia, lukisan tanah dan gua serta lukisan badan dan dekorasi sangat penting dan memakai bermacam-macam cara dan gaya. Tarian dan musik juga penting sekali bagi masyarakat Aborigin sebagai ekspresi kesenian, dan juga dipengaruhi lingkungan alami. Masa kini, komunitas-komunitas Aborigin di seluruh Australia masih membuat lukisan serta menari dan main musik secara tradisional. Walalupun demikian, makin lama makin banyak kesenian Aborigin dipengaruhi teknik modern. Misalnya, cat akrilik dan kertas bukan kulit kayu digunakan untuk lukisan, dan tarian bisa dimainkan tidak hanya untuk tuntunan atau tontonan khusus Aborigin, tetapi juga untuk ditonton para wisatawan. Baca Artikel Terkait Tentang Materi Pengertian Tradisi Musik Secara tradisional, untuk membuat musik baru, seorang Aborigin akan jalan-jalan walkabout dan mendengarkan bunyi-bunyi binatang – tidak hanya suaranya, tetapi juga bunyi gerakannya. Dia juga akan mendengarkan suara guntur, daun yang tertiup angin, dan aliran air. Inti suara ini terus dimainkan seteliti-telitinya dengan menggunakan didjeridoo dan alat musik lain. Alat musik orang Aborigin berbeda antara satu suku dengan suku lainnya. Walaupun demikian, bumerang, pentung, batang kayu, genderang, giring-giring kayu dan didgeridoo adalah alat musik biasa untuk hampir semua suku. Lagi pula, bertepuk tangan, hentakan kaki menambah musiknya. Untuk lagu-lagu Aborigin, sebuah lagu dinyanyikan sebagai seri yang terbuat dari beberapa syair pendek. Setiap syair ini menceritakan tentang kejadian atau tempat yang ada hubungan dengan nenekmoyangnya. Sedangkan ada juga lagu upacara penuh’, yaitu lagunya khusus untuk menceritakan maksud tarian yang sedang dimainkan. Tetapi, karena Australia luas sekali, banyak lagu tentang satu kejadian bisa berubah dari satu suku sampai satu suku lain. Walaupun intinya sama, tarian atau musiknya beda. Makanya, walaupun seorang Aborigin yang mengunjungi suku lain mungkin tidak bisa mengerti bahasa lokalnya, dia bisa mengerti cerita lagu dan tarian suku itu. Tarian Seperti musik, juga ada banyak gaya tarian antara suku-suku yang berbeda. Umumnya, orang menari dengan banyak gerakan tangan, kaki dan badan yang tetap, khususnya hentakan kaki. Penari yang paling pintar menari dihormati dan terkenal jauh dari tempat asalnya. Dalam upacara, ketika lagu rahasia dinyanyi, tarian menjadi kuat secara mistik. Penari dan alat-alat yang dipakai menjadi dipenuhi kekuatan gaib dan mistik. Walaupun unsurnya tidak berbahaya, jumlah tarian dan nyanyian menjadi kuat dan oleh sebab itu harus dihormati dan dilaksanakan dengan hati-hati. Upacara yang paling kuat memperbaiki lingkungan alam, dan kehidupan komunitas Aborigin. Makanya, tempat di mana upacara ini dimainkan dianggap suci sekali dan seharusnya tidak diubah atau diperkembangan. Sistem Kepercayaan Suku Aborigin Orang-orang Aborigin memiliki sistem kepercayaan “dream time”. Mereka percaya kepada arwah nenek moyang dan percaya kepada kekuatan-kekuatan magic yang dimiliki oleh alam terutama binatang. Disamping itu mereka juga dikenal sebagai pembuat obat yang diolah dari sumber-sumber alam. Hidup orang-orang Aborigin dikenal sebagai serba upacara. Hal itu mereka anggap penting dalam setiap pelaksanaan pekerjaan seperti perkawinan, kematian, kelahiran dan sebagainya. Peranan orang tua sangat menentukan dalam sistem kehidupan orang-orang Aborigin. Dewan Orang Tua Council of Elders berperan terutama dalam menentukan perang antar suku, upacara kelahiran, sunatan inisiasi, keuntungan, pembagian makanan dan upacara kematian. Tingginya kehidupan spiritual bangsa Aborigin membuat mereka jadi obyek penelitianpaling top di dunia bagi para antropologi. Bangsa Aborigin punya kemampuan bermimpimengenai masa lalu dan masa depan bumi kita. Lukisan di bebatuan buah karya nenek moyangmereka menggambarkan sejarah umat manusia saat zaman batu. Kita bisa melihat rupa badak raksasa, binatang purba yang sudah punah, dan binatang lain seperti Wombat dan Emu. Aborigin adalah bangsa yang damai dan penuh kasih, demikian ujar mampu berbuat hal-hal ajaib yang bagi kita tidak mungkin. Misalnya menyembuhkanorang sakit dengan cara yang tak mungkin dilakukan dokter lulusan perguruan tinggi manapun. Tangan penyembuh masuk begitu saja dalam tubuh si sakit. Ketika dikeluarkan, tak ada bekas luka apalagi darah yang tampak. Yang sakit langsung sembuh, tidak peduli sakit apa. Mereka bisa menempuh jarak ribuan kilometer dalam waktu 1 detik. Pernah ada seorang Aborigin asli yang dimasukkan sel sebuah penjara di kota Wyndam. Keesokan harinya diatampak segar bugar sedang meditasi di luar penjara. Padahal gembok dan rantai masih mengikat selnya tanpa ada kerusakan sedikit pun. Dia dimasukkan kembali ke dalam sel. Namun keesokan harinya terjadi hal yang sama. Orang Aborigin itu sudah ada di luar sel, tanpa berusaha melarikan diri kendati mampu. Berpuluh-puluh kali terjadi hal yang sama. Akhirnya saking kesalnya polisi Australia membebaskan sang Aborigin dari penjara. Beberapa ilmuwan antropologi yang meneliti bangsa Aborigin di pedalaman tengahbenua Australia menceritakan hal-hal yang mirip. Bangsa Aborigin asli itu bisa berjalan tanpacidera di tengah api yang menyala-nyala tanpa terbakar. Mereka mampu meniadakan gravitasdan terbang di udara begitu saja. Mereka juga mampu bertahan hidup dalam air selama berjam-jam. Mereka bisa saling berkomunikasi dengan sesama Aborigin asli yang terpisah puluhan ribukilometer berbantuan pikiran saja. Alam materi bukan halangan bagi mereka. Bahasa Suku Aborigin Ada beberapa ratus bahasa dan dialek tradisional aborigin di benua Australia. Kriol adalah yang paling banyak digunakan. Bahasa ini diperkirakan berkembang sebagai hasil darihubungan antara para pendatang asal Eropa dan suku Aborigin di Australia utara. Pertanyaan dari mana kata kanguru berasal, tak lepas dari si penemunya yakni Kapten James Cook Dialah orang yang dipercaya sebagai penemu benua Australia, dari dialahkemudian asal kata kangguru berasal. Ceritanya ketika sang Kapten sudah mendarat dan bertemudengan penduduk lokal Aborigin, ternyata sang Kapten juga memperhatikan, bahwa adabinatang yang bentuknya aneh. Karena itu sang Kapten pun bertanya “What is the name of that creature?” Suku Aborigin yang tidak mengerti bahasa Inggris itu pun menjawab ” Kangaroo” alias “Saya tidak tahu”. Tetapi dasar sang Kapten juga tidak bisa berbahasa Aborigin, maka iajuga menganggukkan kepala, dan berujar ” That creature name is Kangaroo”. Baca Artikel Terkait Tentang Materi Peta Benua Eropa “Dalam suku aborigin, hal biasa bila berbicara 10 bahasa. Jadi, jika berbicara tiga tidak luar biasa kesannya,” Kendati demikian, penggunaan bahasa itu telah menurun hingga mencapaitaraf yang mengkhawatirkan, dari ratusan orang yang menggunakannya pada 200 tahun lalu saatkedatangan koloni Eropa. Kini pengguna bahwa itu tinggal 20 orang saja. Di sana hanya terdapatkurang dari 50 orang bertutur bahasa Banyjima Begitu pula kurang dari 10 pengguna bahasa Yinhawangka. Karena pernah dilarang menggunakan bahasa-bahasa asli kami, membuat bahasa-bahasa tersebut punah. Pada akhir abad ke-18, ketika para koloni mulai berdatangan dari Inggris, warga pribumiAustralia dapat berbicara hingga 250 bahasa berbeda, bersama dengan 500 hingga 600 tetapi, kebijakan untuk memisahkan anak keturunan Aborigin dari keluarganya untuk kemudian berasimilasi dengan warga kulit putih, menciptakan “Perampokan Generasi”,membinasakan bahasa dan budaya asli pada abad belakangan. Dalam beberapa kasus, anak-anak dilarang berbicara dalam bahasa ibu mereka di sekolahatau dalam misi-misi Kristiani. “Kadang orang-orang tua dari suku Aborigin berpikir bahwabahasa mereka dapat menghalangi kemajuan anak-anak mereka. Karena itu, mereka pun tidak menggunakannya lagi,” kata Profesor Michael Walsh, pakar bahasa pribumi kepada AFP. Kemudian yang terjadi adalah hilangnya suatu generasi, tempat orangtua masihmenggunakan bahasa mereka dengan ayah-ibu mereka, tetapi tidak lagi berbicara bahasa aslidengan anak-anak mereka. Sistem Teknologi Terdiri atas Tempat Tinggal Mereka beradaptasi dengan cepat dalammenanggapi perubahan iklim dan lingkungan, dan memodifikasi lanskap menggunakan api bilaperlu, dengan bahan-bahan dari pepohonan yang sederhana dan mereka hidup dalam harmonidan keseimbangan dengan perubahan musiman dan lingkungan. Atap tempat tinggal merekadapat pula dijadikan perahuwater craft. Alat Transportasi Para arkeolog tidak menemukan kapan awalnyasuku Aborigin memulai perjalanannya, namun penggunaan water craft yang dapat menyeberangsejauh 100-160 km dan melewati pulau-pulau dapat mencapai ke wilayah yang lebih selatan atautepatnya di benua paling selatan yang kita sebut Australia, dapat menjadi bukti bahwa sukuAborigin menggunakan alat tersebut untuk melakukan perpindahan tempat tinggal. SukuAborigin yang pertama kali menetap di Australia menemukan lingkungan yang lebih bagus darisaat ini. Alat-Alat Rumah Tangga Seiring dengan perkembangan zaman, suku Aboriginmulai memproduksi alat-alat rumah tangga yang mereka butuhkan dan memanfaatkan bahan-bahan dasar yang ada di sekeliling mereka. Kayu, batu dan logam merupakan bahan dasar untuk membuat alat-alat tersebut. Terutama kayu yang merupakan bahan dasar pembuatan boomerangdan kano serta rakit. Selain itu, para pria dari suku Aborigin gemar untuk membuat jaring, alatpancing sederhana dan panah untuk memudahkan mereka dalam memburu binatang untuk alat-alat produktif mereka. Pakaian Suku Aborigin juga memanfaatkan kulit binatang untuk melindungi diri atau biasa disebut pakaian sebagai pelindung dari cuaca buruk dengan membuatkulit binatang tersebut menjadi sejenis atap . dan di padukan oleh lukisan-lukisan Tubuh untuk menakuti lawan dan biasanya mereka mengenakan bubuk warna putih untuk menghalangipanasnya matahari, dan warna-warna terang seperti merah untuk menakuti lawan. Biasanyamereka melukis badan mereka dengan pola seperti bercak bintik-bintik yang dilukis oleh tanganmereka sendiri. Senjata Boomerang merupakan senjata suku aborigin yang merupakan penduduk asliAustralia. Sedangkan batu digunakan untuk membuat alat-alat batu juga di gunakan untuk membuat alat memasak dan alat untuk menyalakan api. Makanan Sepanjang pantai perempuan memanen laut untuk berbagai makanantermasuk anjing laut, lobster, muttonfish, warreners dan whelks. Mereka juga terjebak burung,dikumpulkan emu, bebek, angsa, redbill dan telur muttonbird, dan diburu untuk hewan daratkecil termasuk kuskus, landak dan Bandicoot. Orang-orang menggunakan minyak dari landak,kuskus, muttonbird, segel dan penguin untuk melapisi kulit mereka sebagai lapisan tahan air dankehangatan terhadap kondisi cuaca ekstrim. Mata Pencarian Pekerjaan sehari-hari sangat minimal. Kaum pria berburu dan para wanitamengumpulkan hasil buruan. Tak ada yang disimpan buat hari esok atau lusa. Mereka hiduphanya untuk satu hari itu. Mereka berburu hanya untuk mengenyangkan perut selama satu harisaja. Tak ada pertanian atau perkebunan. Masyarakat tinggal dalam kelompok-kelompok yang pekerjaannya hanya berburu,memancing dan mengumpulkan makanan. Mereka belum memiliki mental seorang pekerja,karena yang mereka tahu adalah bagaimana untuk menyambung hidup. Namun pada akhirnyakarena perkembangan jaman, mereka mulai berekspansi ke wilayah lain. Binatang-binatang besar yang saat ini sudah punah dan makanan yang berlimpah beradadi beberapa bagian dari benua tersebut. Akan tetapi struktur tanah di Australia yang sebagianterdiri dari gurun pasir menyebabkan beberapa cara untuk mencari makanan seperti, berladangdan bertani mengalami kegagalan. Penduduk Aborigin sangat membatasi jumlah pengumpulanmakanan karena tidak ingin merusak alam di daerah atau wilayah yang mereka diami, namun mereka telah mengetahui dengan jelas kapan, di mana, dan bagaimana cara untuk menemukan makanan dalam jumlah banyak. Karena wilayah Australia sebagian besar terdiri dari gurun pasir, maka suku Aboriginmengalami kesulitan dalan mencari air untuk hidup. Tidak jarang hal ini menimbulkan kematianbagi penduduk Aborigin akibat dehidrasi. Pada akhirnya mereka menemukan sumber mata air bersih dan secara bergotong-royong mereka mengalirkan air tersebut ke tempat tinggal merekadan menyuburkan pepohonan dengan air tersebut. Organisasi Sosial Namun pandangan Australia berangsur-angsur melunak dan memberikan ruang bagipenduduk asli tersebut setelah konon banyak melakukan pembunuhan. Caranya yang agak unik Australia menetapkan politik asimilasi untuk mencampur dua jenis manusia yang memilikiwarna kulit berbeda aborigin dipisahkan dari keluarganya secara paksa kemudian di tempatkan dipanti asuhan untuk diputihkan. Sebagian kemudian diasuh oleh si kulit putih sebagai pekerjaatau pembantu. Anak laki-laki dipungut untuk dijadikan pekerja gratis di peternakan dihukum berat ketika berbuat tidak salah atau sesuatu yang tidak menyenangkan. Sama seperti apartheid, rupanya nasib aborigin juga ditentukan oleh warna kulitBangsa Aborigin tidak mengenal ketua suku atau presiden, RT, RW, menteri dan semacamnya. Tak ada satupun orang yang berhak untuk bicara atas nama sukunya. Tak bolehada yang memutuskan atas nama kelompok. Setiap orang bertanggung-jawab atas keberlangsungan hidup Aborigin dan pengetahuan rahasia hebat yang mereka miliki. Baca Artikel Terkait Tentang Materi Peta Benua Asia Satu-satunya kepemilikan setiap orang Aborigin adalah pengetahuan tentang alam mimpi, di manaasal muasal bumi ini ditayangkan dan jalan takdir kehidupan setiap manusia di muka mimpi, nyanyian, dan tarian adalah basis makna eksistensi Aborigin. Semua saudara pria ayah dipanggil ayah, semua saudara wanita ibu dipanggil ibu. Fokus utama setiap hari adalah meditasi ke alam mimpi dan bermain dengan anak-anak. Pendidikan anak dan remaja adalah kewajiban semua orang dewasa. Balita sampai usia puber menikmati kebebasan sepenuhnya, juga dalam hal seks. Usai masa puber setiap anak diharuskan ikut ritual rahasia, menyelami misteri dunia impian di alam lain. Setelah itu mereka tidak lagi sebebas dulu. Pria dan wanita hidup secara monogami. Pasutri ya sampai mati. Demikianlah pembahasan mengenai Suku Aborigin – Sejarah, Asal Usul dan Kehidupannya Lengkap semoga dengan adanya ulasan tersebut dapat menambah wawasan dan pengetahuan kalian semua, terima kasih banyak atas kunjungannya. 🙂 🙂 🙂 Sri Oktavia Benua Australia merupakan benua terkecil yang ada di dunia ini. Benua Australia ditemukan oleh seorang penjajah Inggris yang bernama James Cook. Benua Australia memiliki penduduk asli yaitu Suku Aborigin. Sebagian peneliti percaya bahwa penduduk Aborigin telah menempati benua Australia sejak – tahun yang lalu. Suku Aborigin memiliki ciri fisik kulit berwarna cokelat dan cenderung hitam jika terbakar sinar matahari, rambut ikal atau bergelombang, muka dan tubuh berbulu lebat, ukuran dahi sempit, rongga mata menjorok ke dalam, alis mata menonjol, rahang menonjol, mulut lebar, tulang tengkorak tebal, dan memiliki tinggi rata 152 cm.[1]Australia adalah salah satu negara yang berisi penduduk dengan latarbelakang budaya yang beranekaragam. Jauh sebelum hadirnya bangsa Inggris di Australia, suku Aborigin sudah tersebar hampir di semua wilayah bagian Australia. Ketika itu jumlah Aborigin sudah sekitar penduduk. [2] Tentang kehidupan masyarakat Australia zaman dahulu, mereka sudah memiliki keanekaragaman pula, baik itu kebudayaan yang meliputi bahasa, kehidupan sosial, seni, dan lain sebagainya. Setiap wilayah yang sudah ditempati Suku Aborigin memiliki ciri khas tersendiri. Mengenai seni, seni di Australia sudah ada sejak zaman pra sejarah. Jauh sebelum seperti sekarang ini, dahulu suku asli masyarakat Australia, Suku Aborigin telah mencetak sejarah gemilang dalam ranah kesenian. Sebelum kedatangan bangsa Barat, telah ditemui berbagai macam ritual, tarian tradisional, dan berbagai atribut kebudayaan yang menghiasi kehidupan orang-orang Aborigin. Karya seni cadas Aborigin adalah salah satu contoh bahwa Orang Aborigin telah memiliki jiwa seni sejak dulu. Dalam bidang kesenian bukan hanya sekedar seni rupa saja yang telah mereka kembangkan, namun seni musik juga turut berkembang di masyarakat Australia sejak dahulu. Musik Pribumi Australia mengacu pada musik Aborigin dan Penduduk Kepulauan Selat Torres . Musik merupakan bagian integral dari ketaatan sosial , budaya dan seremonial masyarakat Aborigin dan telah ada selama lebih dari tahun.[3] Alat musik pribumi Australia yang sangat terkenal adalah "Didgeridoo". Bentuk dari alat musik ini sederhana. Bentuk asli dari Didgeridoo menyerupai pipa panjang terbuat dari kayu dengan permukaan yang agak melengkung di mana bagian ujung tempat udara dihembuskan biasanya cenderung lebih pipih daripada ujung lainnya. Bahan kayu yang digunakan pada umumnya adalah kayu dari pohon Eucalyptus berlubang rayap yang tersebar di daerah Australia. Panjang dari alat musik ini biasanya berkisar antara 1-2 meter hingga bisa mencapai panjang 3 proses pembuatan, batang pohon dipanen. Orang Aborigin mencari pohon berayap tertentu yang berlubang. Sebelum ditebang, pohon diamati terlebih dahulu, diketuk, lalu dikupas sedikit ke belakang untuk mengetahui apakah lubang tersebut menghasilkan resonansi bunyi yang baik. Barulah proses pembuatan dengan melepas kulit luar batang pohon, lalu membentuknya menjadi Didgeridoo. Alat musik Didgeridoo dimainkan dengan cara ditiup. Pada dasarnya, alat musik ini memang hanya memiliki 1 nada dasar yang bisa dihasilkan ketika kita memainkannya. Semakin panjang alat musik ini dibuat, maka nada yang dihasilkan pun semakin rendah. Meski tampilannya yang sederhana dengan bentuk memanjang, orang Aborigin tetap memiliki teknik khusus yang berkaitan dengan teknik pernapasan untuk memainkan alat musik ini secara benar. Mereka meniup dengan bibir yang bergetar, Tekanan udara dipelihara, mereka meniup melalui mulut dan pernapasan melalui hidung dengan menggunakan pipi sebagai tempat menyimpan udara.[4] Variasi dalam suara alat musik ini dibuat dengan menggunakan pita suara si pemain. Alhasil, alat musik ini akan memberikan efek suara tinggi hingga rendah tergantung bagaimana cara si pemain menggunakan. Dalam perkembangannya, banyak nama dan sebutan lain untuk alat musik didgeridoo di antara suku Aborigin. Yidaki adalah salah satu nama yang paling umum digunakan, meskipun sebenarnya Yidaki mengacu pada jenis instrumen tertentu yang digunakan oleh masyarakat Yolngu di timur laut Arnhem Land . Lalu, ada sebutan Mandapul dan di Arnhem Land barat, dan ada istilah perannya, musik adalah bagian penting dari budaya asli masyarakat Aborigin. Masyarakat Aborigin memanfaatkan alat musik dalam berbagai hal. Tetapi, tidak semua masyarakat Aborigin yang menggunakan musik ini. Masa pendudukan Suku Aborigin, alat musik Didgeridoo biasanya digunakan sebagai pengiring nyanyian seremonial atau rekreasi, atau, lebih jarang, sebagai alat musik tunggal.[5] Dalam memanfaatkan musik, lagu yang diiringi alat musik liriknya sangat berbeda dari satu lagu ke lagu lainnya, dan dapat bervariasi tergantung tujuan yang ingin tradisional asli Australia memiliki banyak makna bagi budaya mereka. Suku Aborigin turut menggunakan musik sebagai sarana komunikasi mereka. Dalam setiap peristiwa yang terjadi, mereka memiliki catatan momen tersendiri melalui musik. Orang – orang Aborigin berpetualang ke alam dan mendengarkan berbagai macam suara yang ada di alam, tidak hanya suara tetapi juga kepakan sayap atau hentakan kaki di tanah. Suku Aborigin juga mendengarkan suara angin, guntur, pohon berderit, dan air mengalir. Hal ini sering mereka lakukan karena memang pada dasarnya kehidupan Suku Aborigin banyak dihabiskan di alam. Mereka terutama yang laki-laki saling bekerjasama dalam berburu hewan, dan membuat rumah-rumah sederhana dari ranting dan kulit pohon atau yang kerap disebut gunyah.[6]Inti dari semua suara yang mereka dapatkan di alam mereka implementasikan dalam alat musik didgeridoo. Hasilnya, ada lagu berburu, lagu pemakaman, lagu tentang mitos – mitos, lagu tentang lingkungan sekitar, hingga lagu – lagu lainnya. Tidak jarang pula, kepala suku yang memimpin kehidupan sosial dan pemerintahan, juga memimpin penggunaan musik tradisional pada masyarakat Suku Aborigin. Dalam Jurnal Aboriginal Sound Instrument oleh Alice M. Moyle yang diterbitkan oleh Australian Institute of Aboriginal and Torres Strait Islander Studies dijelaskan bahwa anak-anak suku Aborigin diajarkan tentang budaya mereka pada usia yang sangat muda melalui musik disamping seni tari.[7] Kebanyakan dari musik yang digunakan masyarakat Suku Aborigin memang selalu ditampilkan sebagai pengiring tarian – tarian. Melalui musik, masyarakat Suku Aborigin menciptakan lagu – lagu khusus yang memiliki makna sakral. Mereka percaya bahwa lagu itu memiliki informasi penting tentang sejarah diri mereka. Dari musik, Suku Aborigin bisa belajar tentang kehidupan mereka, bagaimana sejarah mereka ada, cara mereka bertahan hidup terhadap segala situasi, hingga belajar tentang moral dan nilai-nilai serta peran dan tanggung jawab melalui seni musik tradisional. Selain itu, masyarakat Aborigin memanfaatkan musik sebagai sarana dalam acara-acara khusus. Didgeridoo dimainkan sebagai sarana rekreasi dan untuk tujuan hiburan di luar upacara di Australia. Selain itu, salah satu sebab lainnya yang membuat musik menjadi bagian dari aktivitas suku Aborigin australia adalah banyaknya macam macam ritual adat yang menggunakan musik sebagai perantarannya, seperti Upacara Pukulama, The Pukumani, dan ritual The yam Kulama.[8] Dalam Upacara Kulama, musik disenandungkan selama 3 hari 3 malam. The Pukumani, disediakan sebuah forum untuk mengekspresikan jiwa seni melalui musik disamping tari, patung dan lukisan tubuh. Dan dalam ritual The Yam Kulama, musik dimanfaatkan sebagai media untuk mengungkapkan keinginan masa depan yang sehat dan sejahtera. Maka dari itu, mereka sangat menghargai musik dan lagu – lagu yang ada pada saat zaman kontemporer sekarang, Didgeridoo masih banyak di mainkan oleh Orang Aborigin asli. Didgeridoo juga telah menyebar ke seluruh dunia, yang melahirkan ribuan musisi Didgeridoo di berbagai penjuru wilayah. Alat musik ini bahkan dinobatkan sebagai alat musik Aborigin nasional di Australia sekarang. Dan kini budaya musik Australia semakin banyak digunakan dalam acara – acara seremonial. Kebudayaan seperti Tari Tiwi, Yabun festival, Tjungu festival, hingga Laura Aboriginal Dance juga memanfaatkan musik sebagai Australia adalah benua terkecil yang ada di dunia. Negara Australia ditempati oleh penduduk asli yang dikenal sebagai Suku Aborigin. Sebelum kedatangan bangsa Barat, telah ditemui berbagai macam ritual, tarian tradisional, dan berbagai atribut kebudayaan yang menghiasi kehidupan orang-orang Aborigin. Suku Aborigin telah mencetak sejarah gemilang dalam ranah kesenian. Seni musik memiliki banyak makna bagi kehidupan orang Suku Aborigin. Alat musik pertama yang muncul saat itu bernama Didgeeridoo sebuah alat musik tiup yang menyerupai pipa panjang terbuat dari kayu dengan permukaan yang agak melengkung. Musik digunakan untuk berbagai keperluan kehidupan, seperti sarana komunikasi, pengenalan budaya Aborigin, pengiring upacara sakral, sarana belajar tentang moral dan nilai-nilai kehidupan, hingga pengiring tarian – tarian tertentu. Itulah mengapa musik memegang peranan penting dalam sejarah orang Aborigin Australia. Dan hingga kini, musik masih terus menjadi bagian suku Aborigin Australia yang dimanfaatkan dalam berbagai tujuan. [1] Dadan Adi Australia Prakolonial Sebelum Kedatangan Bangsa Inggris . Jurnal Candi. Vol. 20, Maret 2020. Hal. 48 – 49 [2] Fitriani, Amalia. Penerapan Kebijakan Asimilasi Terhadap Anak-Anak Aborigin “Half Caste” di Australia 1937-1967.Skripsi di Program Studi Ilmu, Sejarah Fakultas Ilmu Budaya, Universitas [6] Shaw. The Story of Australia. Faber and Faber Limited. 50 Mengulik hal-hal unik dari berbagai belahan dunia kerap mendatangkan keseruan tersendiri. Banyak hal baru yang bisa kita pelajari seperti budaya, suku bangsa, bahasa hingga makanan khasnya. Nah, dalam artikel kali ini, theAsianparents akan mengulas lebih jauh tentang suku Aborigin yang mendiami benua Australia. Parents dan si kecil mungkin saja tak banyak tahu tentang suku asli Negeri Kanguru ini. Namun, apakah suku Aborigin sama halnya suku pedalaman di Indonesia? Langsung saja, yuk, simak ulasan sampai akhir! 5 Fakta Suku Aborigin 1. Suku Asli Australia yang Suka Berburu Suku aborigin merupakan suku yang pertama kali mendiami benua Australia, wilayah Tasmania dan Kepulauan Welat Torres. Nama Aborigin sendiri diambil dari bahasa Latin yakni “Aborigine” yang berarti “awal”. Semenjak bangsa Eropa berhasil menduduki wilayah benua Australia, keberadaan suku ini mulai tergusur oleh adanya bangsa asing. Suku Aborigin memiliki kebiasaan mencari ikan dan berburu untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Hewan buruan mereka berupa hewan-hewan liar seperti kanguru, tasmanian devil, hingga wombat. Suku Aborigin berburu menggunakan tombak dan bumerang. Daging hewan buruan dikonsumsi dan kulit hewan digunakan sebagai baju yang berfungsi menghangatkan badan saat musim dingin. Sementara pada saat menangkap ikan, mereka biasa menggunakan jaring dan tombak. Bumerang, senjata tradisional Aborigin Suku dari benua Australia ini hidup secara nomaden atau berpindah-pindah. Tak heran jika ada yang menyebutnya sebagai suku pengelana. Mereka biasanya membangun rumah dari ranting-ranting pepohonan dan dedaunan kering. Lantaran tak bermukim di suatu daerah dalam jangka waktu yang lama, mereka hanya membuat rumah sederhana. Hanya untuk untuk tempat berteduh dan melepas lelah. Artikel terkait 6 Fakta Unik Suku Mante yang Misterius di Hutan Aceh, Benarkah Mereka Masih Ada? 2. Sejarah Suku Aborigin yang Tersingkir dari Wilayahnya Sendiri Diperkirakan oleh para peneliti sekitar tahun lalu, nenek moyang suku bangsa Aborigin sudah sampai ke Australia dari arah utara Asia Tenggara dan Indonesia. Sebelum kedatangan bangsa kolonial ke benua Australia, mereka sudah menempati hampir seluruh wilayah Australia. Saat itu, jumlah penduduk Aborigin mencapai jiwa. Namun, ketika itu suku tersebut memiliki budaya yang berbeda-beda dan terbagi menjadi beberapa golongan seperti Aborigin Koorie yang menghuni wilayah Sidney, Aborigin Yolngu di pesisir utara Australia dan, Aborigin Larrakeyah yang ada di wilayah Darwin. Suku Aborigin hidup terisolasi di dalam Benua Australia hingga pada tahun 1700-an mereka mulai bersinggungan dengan bangsa Barat. Pada awal kemunculan bangsa Barat, suku ini merasa bingung dengan orang-orang berkulit pucat dan berpenampilan lebih maju dari cara mereka berpakaian. Setelah Barat menduduki Australia, suku Aborigin memilih menjauh dari pemukiman orang Inggris kala itu. 3. Jumlah Suku Aborigin Saat Ini Perempuan Aborigin Keterasingan suku ini di benua Australia semakin terlihat setelah ditemukannya emas di benua tersebut. Bangsa Barat mengusir dan merampas tanah serta suku Aborigin. Tak sedikit pula penduduknya yang dibunuh. Sementara ratusan jiwa yang tersisa terusir ke wilayah gersang nan tandus. Akibatnya, mereka terkena wabah dan kelaparan yang berujung pada kematian. Ditambah lagi adanya perang antar golongan suku yang membuat jumlah mereka semakin sedikit. Saat ini diperkirakan jumlah penduduk suku tersebut hanya tinggal jiwa. Ini sudah termasuk dengan suku asli Aborigin yang jumlahnya hanya sisanya sudah tercampur dengan ras lainnya. Artikel terkait Kehidupan Masyarakat Suku Asmat, Perempuan yang Jadi Tulang Punggung Keluarga 4. Memiliki Kemiripan dengan Orang Papua Melansir dari situs Pinterpandai, suku ini memiliki kemiripan dengan orang Papua dengan kulit yang gelap. Ini karena sekitar tahun lalu, orang-orang Papua menjelajah hingga ke benua Australia dan menetap di sana. Seiring berjalannya waktu, fisik mereka mengalami berbagai perubahan. Mayoritas mereka lebih pendek dibandingkan dengan orang-orang Papua. Selain tubuh yang pendek, suku ini juga memiliki tipe rambut keriting dan sebagian berwarna kemerahan. Melansir BBC Indonesia, tahun 2013 yang ada penelitian tentang perbandingan DNA suku Aborigin dengan orang Papua dan India. Studi ini memberikan hasil bahwa para imigran yang menginjakkan kaki di Australia terisolasi dalam waktu yang lama sampai bangsa Eropa menyusul ke benua tersebut di tahun 1800-an. Studi tersebut juga membandingkan kekerabatan antara gen Papua dan gen India. Ditemukan juga adanya hubungan genetik pada gen Papua dan gen Aborigin yang diperkirakan tiba tahun lalu. Ketika itu, wilayah Australia dan Papua masih menyatu membentuk sahul. Ini berarti, suku Aborigin masih berkerabat dengan bangsa Indonesia. Artikel terkait Ayah Menyusui Bayi? Hanya Ada dalam Budaya Suku Aka di Republik Kongo 5. Berjiwa Seni Tinggi Siapa sangka, orang Aborigin ternyata berjiwa seni yang tinggi. Ini dibuktikan dengan banyaknya lukisan di dinding gua yang ditemukan. Selain itu, suku ini juga jago memahat. Jika ingin mengetahui keseluruhan karya seni khas Aborigin, Parents dapat mengunjunginya di museum seni Aborigin di Australia. Tak berbeda dengan suku pedalaman yang ada di Indonesia, suku bangsa Aborigin masih menganut kepercayaan pada roh agung. Dalam kepercayaannya, roh agung akan memberikan bimbingan dan petunjuk untuk menjalani kehidupan ini. Seiring berjalannya waktu, mereka mulai mengenal agama Kristen dan saat ini mayoritas memeluk agama tersebut. Sayangnya, bangsa Aborigin kini merasa tersisih dan terasing dari negaranya sendiri. Hal ini ditengarai karena kehadiran bangsa kulit putih. Suku ini juga kerap dipandang sebagai suku yang terbelakang di Australia. **** Nah, itulah ulasan tentang suku Aborigin beserta sejarah dan asal usulnya. Meskipun suku tersebut saat ini jumlahnya semakin sedikit dan terasing, tetapi mereka masih dapat bertahan dan berkembang di tengah perkembangan zaman yang semakin modern. Baca juga 5 Fakta Anak-anak Suku Baduy Terkait Pendidikan di Lingkungan Adat Ayah Menyusui Bayi? Hanya Ada dalam Budaya Suku Aka di Republik Kongo Ayah Menyusui Bayi? Hanya Ada dalam Budaya Suku Aka di Republik Kongo Parenting bikin pusing? Yuk tanya langsung dan dapatkan jawabannya dari sesama Parents dan juga expert di app theAsianparent! Tersedia di iOS dan Android.

tarian tradisional suku aborigin adalah